Edisi di buang sayang hehe,,, 2sAF1QipOGQycWCzTqch3yrCLrUuyLgOKTj984ssAWSwxi&viewerState=lb
https://www.google.com/search?q=arisan+mapan&oq=arisan&aqs=chrome.0.69i59l2j69i57.5664j0j4&client=ms-android-vivo&sourceid=chrome-mobile&ie=UTF-8#fid=0x2e69f16c5bc2848f:0xb74bc18d74809aab&fpstate=luuv&imagekey=!1e10!2sAF1QipPqD9FKKG6h4PiW0rAL9QFu2R8WND_bMs7ytKNp&viewerState=lb
My Story Begins,,,
Sabtu, 09 Maret 2019
Sabtu, 20 Oktober 2018
Hai-hai baru buka blog lagi, aku ingin share kisahku yang pertama seputar perjuangan untuk berkuliah. Selamat menikmati cerita ku yaa...😀😁😁
Berawal dari
Mimpi anak SMA
Halo semuanya, perkenalkan namaku Dede
Nuraeni. Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk membagikan cerita perjuanganku
masuk perguruan tinggi negeri di Bandung. Oh iya, aku lulus SMA pada tahun
2013. Setelah lulus sekolah, aku diterima untuk berkuliah di Institut Teknologi
Bandung Jurusan Rekayasa Pertanian Fakultas SITH. Yaaa benar ITB, kampus yang
banyak dikatakan orang sebagai kampus termahal. Tapi tenang ITB bukan kampus seperti
itu kok, buktinya aku yang anak seorang buruh tani pun dapat berkuliah di
kampus gajah duduk tersebut (nama panggilan ITB hehe). Aku masuk kampus ITB
lewat jalur undangan (SNMPTN) dan banyak cerita yang telah ku lewati untuk
sampai ketitik tersebut. Oke, mungkin aku akan bercerita tentang sekolah SMA ku
terlebih dahulu. Aku bersekolah di SMA Negeri 17 Garut, dan dapat dikatakan
sebagai sekolah pinggiran kota dengan jarak ke pusat kota sekitar 20 Km (hmm
jauh). Lalu kenapa aku bisa masuk ITB? Singkat cerita, selama duduk dibangku
sekolah aku tidak pernah berpikir untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi yaitu kuliah, dalam benakku hanya ingin lulus SMA dan bekerja. Alasannya
karena aku ingin membantu ekonomi keluarga dan sudah lelah harus bersekolah
jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Selama di SMA untuk sampai ke sekolah
aku melewati 4 perkampungan dengan 3 desa jadi bisa dibayangkan jaraknya,
mungkin 2 – 3 km.
Orang tua ku hanya bekerja sebagai buruh
tani dan untuk uang bekal, aku harus bekerja menjadi penyulam bulu mata. Setiap
pulang sekolah, biasanya aku membantu tetangga yang bekerja di pabrik bulu mata
untuk menyelesaikan PR nya (jadi karyawan bulu mata selain harus bekerja di
pabrik, mereka akan membawa tugas pekerjaan yang belum selesai ke rumah untuk
diselesaikan dengan sistem borongan). Upah yang aku peroleh dari pekerjaan
tersebut hanya sebesar Rp. 2500 untuk 10 untai sulaman bulu mata yang dibuat.
Selain menjadi peyulam bulu mata, setiap hari sabtu dan minggu aku biasa
membantu tetangga yang bekerja di pabrik terasi di kampungku. Aku membantu
sebagai pembungkus terasi, dari pekerjaan tersebut aku memperoleh uang Rp. 1000
untuk setiap 100 renceng yang aku selesaikan.
Dari sisi ekonomi dapat dikatakan aku
termasuk orang yang belum beruntung dan sangat tidak mungkin untukku dapat
melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Biaya kuliah itu tidaklah murah! Namun,
dari segi akademik dapat dikatakan aku lumayan berprestasi. Selama disekolah,
Alhamdulillah aku selalu memperoleh rangking 3 besar di kelas. Selain itu, aku
selalu di dukung wali kelasku untuk terus berprestasi. Awalnya aku berpikir
untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja setelah lulus SMA,
namun karena aku dekat dengan wali kelasku sebut saja ibu Weni. Beliau
merupakan guru mata pelajaran biologi dan wali kelas ku saat duduk dikelas 3.
Mungkin beliau merupakan salah satu orang yang berjasa atas perubahan pola
pikirku. Walaupun beliau guru biologi tapi beliau selalu memberikan pesan-pesan
moral dan semangat kepada murid-muridnya. Kata yang paling aku ingat dari
beliau adalah “Walaupun kita memiliki keterbatasan namun kita harus tetap
memiliki mimpi, genggam dan teguhkan mimpimu maka mimpi itu akan tercapai dan
jangan lupa untuk berdoa kepada Allah SWT”.
Berawal dari kalimat beliau, aku mulai
mencari informasi mengenai beasiswa dan cara masuk ke perguruan tinggi.
Alhamdulillah pada tahun 2013 tepatnya awal semester dua tahun ajaran tersebut,
ada roadshow yang diselenggarakan
oleh perkumpulan mahasiswa Garut. Ada
kakak-kakak yang berasal dari UNPAD, ITB, Unsoed, dan Polban, mereka memberikan
edukasi mengenai bagaimana cara untuk masuk ke PTN dengan beberapa jalur dan
bisa gratis khusus untuk siswa yang berprestasi dari golongan keluarga ekonomi
menengah ke bawah. Sekolah ku bisa dibilang masih jauh dari kata layak dalam
hal fasilitas, terutama fasilitas komputer dan jaringan internet yang masih
belum memadai sehingga membuat infomasi dari luar kurang tersalurkan.
Pada bulan februari 2013, Alhamdulillah
dari hasil roadshow kakak-kakak
mahasiswa di sekolah, informasi mengenai jalur undangan masuk PTN (SNMPTN) pun
masuk ke sekolah ku. Guru-guru dan staf pengajar membuat pengumuman saat
upacara, ada kabar bahwa untuk masuk kuliah lewat jalur undangan sudah di buka
dan siswa yang tertarik dapat mendaftar kepada guru BK (bimbingan konseling).
Alhamdulillah, ini merupakan jalan dari Allah SWT, karena telah memberikan
kemudahan informasi didetik-detik tahun kelulusanku. Setelah pengumuman
tersebut, aku mendatangi dan bertanya kepada guru BK mengenai berkas yang harus
dipersiapkan untuk persyaratan mengikuti jalur undangan SNMPTN tersebut. Dan
persyaratan pun di umumkan di papan pengumuman. Setelah membaca persyaratan
tersebut, aku membuat daftar berkas yang harus dipersiapkan di buku catatan.
Aku mulai mempersiapkan berkas-berkas dan belum bercerita ke orang tua karena
aku takut akan dilarang. Jadi pada saat itu aku lebih banyak berkonsultasi
dengan guru waliku.
Aku mempersiapkan segala berkas
sendirian. Kemudian, setelah beberapa berkas selesai aku baru bercerita kepada
orang tua dan Alhamdulillah orang tua ku setuju serta mengizinkan aku untuk
mencoba jalur undangan masuk perguruan tinggi. Namun, aku sedikit sedih karena
orang tua ku hanya menyetujui untuk berkuliah bila memang aku lolos jalur
undangan tersebut. Tapi itu tidak membuatku menyerah, aku mulai pergi ke warnet
untuk mencari informasi lebih. warnet di daerah ku terbilang jauh, jadi aku
tinggal dikampung Sangkan Desa Cintarasa dan untuk ke warnet aku harus ke
Kecamatan Samarang dengan terlebih dahulu berjalan kaki, kemudian naik angkot
setelah sampai di jalan raya. Aku mulai dengan kata kunci SNMPTN 2013, dan
masuk ke portal ristekdikti. Berdasarkan portal tersebut terdapat pilihan tata
cara pendaftaran masuk ke PTN dan program beasiswa yang ditawarkan. Dari sana,
ada program beasiswa bidikmisi yang diceritakan oleh kakak-kakak mahasiswa saat
roadshow di sekolah, aku mulai
mencari tahu lebih rinci dan menuliskan persyaratannya di buku catatan. Setelah
memperoleh informasi yang cukup aku pulang ke rumah dan berdoa kepada Allah SWT
karena telah dibukakan jalan dan semoga aku berhasil.
Sebelum aku mendaftar SNMPTN aku
berkonsultasi dengan guru BK untuk memilih PTN dan jurusan yang sesuai dengan
hasil pencapaianku selama di sekolah. Dari hasil diskusi dengan guru BK aku
memperoleh beberapa pillihan di antaranya S1 Unpad jurusan Biologi, S1 ITB
Jurusan Rekayasa Pertanian, dan D4 Polban jurusan akuntansi. Dari ketiga
pilihan itu aku memilih ITB jurusan Rekayasa Pertanian, alasan kenapa aku
memilih jurusan pertanian karena aku teringat dengan orang tua ku yang
merupakan buruh tani dan mengingat desaku yang merupakan daerah pertanian jadi
aku berkeinginan untuk memajukan para petani di desaku. Beberapa hari kemudian
portal pendaftaran SNMPTN pun dibuka aku bersama dengan dua orang temanku yang
juga ingin mendaftar SNMPTN pergi ke warnet sambil membawa berkas yang
diperlukan untuk persyaratan. Kami membaca satu per satu ketentuan yang menjadi
syarat dan mengecek kembali berkas yang kami bawa dengan perasaan yang
deg-degan. Setelah semuanya dinilai sudah lengkap kamipun membuat akun dan
mengupload dokumen yang dibutukan.
Siswa yang mendaftar jalur SNMPTN
disekolah ku berjumlah 30 orang dan semuanya kemungkinan megambil jalur
beasiswa yang sama yaitu bidikmisi. Pengumuman hasil seleksi berkas SNMPTN
akhirnya diumumkan, yaitu pada akhir bulan mei. Awalnya aku sudah tidak yakin
akan lolos jadi aku tidak mengecek di website,
tapi Euis temanku yang daftar bersama denganku memberi tahu keesokan harinya
bahwa aku diterima kuliah di ITB lewat jalur SNMPTN. Akhirnya aku mengecek
sendiri website dan ternyata benar
aku lolos.
Aku
pergi ke ruang guru dan berterima kasih kepada semua guru karena atas masukan
dan dukungan para guru, akhirnya aku yang berasal dari desa dapat berkuliah di
perguruan tinggi negeri favorit.
Lonceng sekolah yang menunjukan jam
pulangpun akhirnya berbunyi. Aku sontak saja langsung bergegas dan pulang ke
rumah dengan perasaan bahagia yang tidak terkendali. Karena sesungguh hal ini
masih sangat mengejutkan bagiku, aku langsung memberitahukan kepada orang tua
ku bahwa aku lolos SNMPTN dan berkuliah di ITB dengan beasiswa bidikmisi.
Sontak saja kedua orang tua ku menangis karena tidak menyangka anaknya dapat
kuliah. Keesokan harinya pun orang tua ku berkunjung ke sekolah dan berterima
kasih kepada para guru telah membantu saya untuk dapat melanjutkan kuliah.
Akhirnya pada bulan Juli, aku pergi ke
bandung bersama ibu ku untuk melakukan pendaftaran ulang di Sabuga ITB.
Peristiwa tersebut merupakan hal yang sangat tidak bisa aku lupakan.
Perjuanganku selama bersekolah memberikan hasil yang memuaskan dan mengubah
jalan hidupku. Kini aku percaya bahwa setiap usaha tidak akan pernah
mengkhianti hasil dan semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi adik-adik
SMA terutama yang berasal dari SMA pedesaan untuk terus berpikir positif dalam
mengejar keinginan untuk berkuliah.
Langganan:
Postingan (Atom)