Sabtu, 20 Oktober 2018

Hai-hai baru buka blog lagi, aku ingin share kisahku yang pertama seputar perjuangan untuk berkuliah. Selamat menikmati cerita ku yaa...😀😁😁

Berawal dari Mimpi anak SMA

Halo semuanya, perkenalkan namaku Dede Nuraeni. Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk membagikan cerita perjuanganku masuk perguruan tinggi negeri di Bandung. Oh iya, aku lulus SMA pada tahun 2013. Setelah lulus sekolah, aku diterima untuk berkuliah di Institut Teknologi Bandung Jurusan Rekayasa Pertanian Fakultas SITH. Yaaa benar ITB, kampus yang banyak dikatakan orang sebagai kampus termahal. Tapi tenang ITB bukan kampus seperti itu kok, buktinya aku yang anak seorang buruh tani pun dapat berkuliah di kampus gajah duduk tersebut (nama panggilan ITB hehe). Aku masuk kampus ITB lewat jalur undangan (SNMPTN) dan banyak cerita yang telah ku lewati untuk sampai ketitik tersebut. Oke, mungkin aku akan bercerita tentang sekolah SMA ku terlebih dahulu. Aku bersekolah di SMA Negeri 17 Garut, dan dapat dikatakan sebagai sekolah pinggiran kota dengan jarak ke pusat kota sekitar 20 Km (hmm jauh). Lalu kenapa aku bisa masuk ITB? Singkat cerita, selama duduk dibangku sekolah aku tidak pernah berpikir untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah, dalam benakku hanya ingin lulus SMA dan bekerja. Alasannya karena aku ingin membantu ekonomi keluarga dan sudah lelah harus bersekolah jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Selama di SMA untuk sampai ke sekolah aku melewati 4 perkampungan dengan 3 desa jadi bisa dibayangkan jaraknya, mungkin 2 – 3 km.
Orang tua ku hanya bekerja sebagai buruh tani dan untuk uang bekal, aku harus bekerja menjadi penyulam bulu mata. Setiap pulang sekolah, biasanya aku membantu tetangga yang bekerja di pabrik bulu mata untuk menyelesaikan PR nya (jadi karyawan bulu mata selain harus bekerja di pabrik, mereka akan membawa tugas pekerjaan yang belum selesai ke rumah untuk diselesaikan dengan sistem borongan). Upah yang aku peroleh dari pekerjaan tersebut hanya sebesar Rp. 2500 untuk 10 untai sulaman bulu mata yang dibuat. Selain menjadi peyulam bulu mata, setiap hari sabtu dan minggu aku biasa membantu tetangga yang bekerja di pabrik terasi di kampungku. Aku membantu sebagai pembungkus terasi, dari pekerjaan tersebut aku memperoleh uang Rp. 1000 untuk setiap 100 renceng yang aku selesaikan.
Dari sisi ekonomi dapat dikatakan aku termasuk orang yang belum beruntung dan sangat tidak mungkin untukku dapat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Biaya kuliah itu tidaklah murah! Namun, dari segi akademik dapat dikatakan aku lumayan berprestasi. Selama disekolah, Alhamdulillah aku selalu memperoleh rangking 3 besar di kelas. Selain itu, aku selalu di dukung wali kelasku untuk terus berprestasi. Awalnya aku berpikir untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja setelah lulus SMA, namun karena aku dekat dengan wali kelasku sebut saja ibu Weni. Beliau merupakan guru mata pelajaran biologi dan wali kelas ku saat duduk dikelas 3. Mungkin beliau merupakan salah satu orang yang berjasa atas perubahan pola pikirku. Walaupun beliau guru biologi tapi beliau selalu memberikan pesan-pesan moral dan semangat kepada murid-muridnya. Kata yang paling aku ingat dari beliau adalah “Walaupun kita memiliki keterbatasan namun kita harus tetap memiliki mimpi, genggam dan teguhkan mimpimu maka mimpi itu akan tercapai dan jangan lupa untuk berdoa kepada Allah SWT”.
Berawal dari kalimat beliau, aku mulai mencari informasi mengenai beasiswa dan cara masuk ke perguruan tinggi. Alhamdulillah pada tahun 2013 tepatnya awal semester dua tahun ajaran tersebut, ada roadshow yang diselenggarakan oleh perkumpulan mahasiswa  Garut. Ada kakak-kakak yang berasal dari UNPAD, ITB, Unsoed, dan Polban, mereka memberikan edukasi mengenai bagaimana cara untuk masuk ke PTN dengan beberapa jalur dan bisa gratis khusus untuk siswa yang berprestasi dari golongan keluarga ekonomi menengah ke bawah. Sekolah ku bisa dibilang masih jauh dari kata layak dalam hal fasilitas, terutama fasilitas komputer dan jaringan internet yang masih belum memadai sehingga membuat infomasi dari luar kurang tersalurkan.
Pada bulan februari 2013, Alhamdulillah dari hasil roadshow kakak-kakak mahasiswa di sekolah, informasi mengenai jalur undangan masuk PTN (SNMPTN) pun masuk ke sekolah ku. Guru-guru dan staf pengajar membuat pengumuman saat upacara, ada kabar bahwa untuk masuk kuliah lewat jalur undangan sudah di buka dan siswa yang tertarik dapat mendaftar kepada guru BK (bimbingan konseling). Alhamdulillah, ini merupakan jalan dari Allah SWT, karena telah memberikan kemudahan informasi didetik-detik tahun kelulusanku. Setelah pengumuman tersebut, aku mendatangi dan bertanya kepada guru BK mengenai berkas yang harus dipersiapkan untuk persyaratan mengikuti jalur undangan SNMPTN tersebut. Dan persyaratan pun di umumkan di papan pengumuman. Setelah membaca persyaratan tersebut, aku membuat daftar berkas yang harus dipersiapkan di buku catatan. Aku mulai mempersiapkan berkas-berkas dan belum bercerita ke orang tua karena aku takut akan dilarang. Jadi pada saat itu aku lebih banyak berkonsultasi dengan guru waliku.
Aku mempersiapkan segala berkas sendirian. Kemudian, setelah beberapa berkas selesai aku baru bercerita kepada orang tua dan Alhamdulillah orang tua ku setuju serta mengizinkan aku untuk mencoba jalur undangan masuk perguruan tinggi. Namun, aku sedikit sedih karena orang tua ku hanya menyetujui untuk berkuliah bila memang aku lolos jalur undangan tersebut. Tapi itu tidak membuatku menyerah, aku mulai pergi ke warnet untuk mencari informasi lebih. warnet di daerah ku terbilang jauh, jadi aku tinggal dikampung Sangkan Desa Cintarasa dan untuk ke warnet aku harus ke Kecamatan Samarang dengan terlebih dahulu berjalan kaki, kemudian naik angkot setelah sampai di jalan raya. Aku mulai dengan kata kunci SNMPTN 2013, dan masuk ke portal ristekdikti. Berdasarkan portal tersebut terdapat pilihan tata cara pendaftaran masuk ke PTN dan program beasiswa yang ditawarkan. Dari sana, ada program beasiswa bidikmisi yang diceritakan oleh kakak-kakak mahasiswa saat roadshow di sekolah, aku mulai mencari tahu lebih rinci dan menuliskan persyaratannya di buku catatan. Setelah memperoleh informasi yang cukup aku pulang ke rumah dan berdoa kepada Allah SWT karena telah dibukakan jalan dan semoga aku berhasil.
Sebelum aku mendaftar SNMPTN aku berkonsultasi dengan guru BK untuk memilih PTN dan jurusan yang sesuai dengan hasil pencapaianku selama di sekolah. Dari hasil diskusi dengan guru BK aku memperoleh beberapa pillihan di antaranya S1 Unpad jurusan Biologi, S1 ITB Jurusan Rekayasa Pertanian, dan D4 Polban jurusan akuntansi. Dari ketiga pilihan itu aku memilih ITB jurusan Rekayasa Pertanian, alasan kenapa aku memilih jurusan pertanian karena aku teringat dengan orang tua ku yang merupakan buruh tani dan mengingat desaku yang merupakan daerah pertanian jadi aku berkeinginan untuk memajukan para petani di desaku. Beberapa hari kemudian portal pendaftaran SNMPTN pun dibuka aku bersama dengan dua orang temanku yang juga ingin mendaftar SNMPTN pergi ke warnet sambil membawa berkas yang diperlukan untuk persyaratan. Kami membaca satu per satu ketentuan yang menjadi syarat dan mengecek kembali berkas yang kami bawa dengan perasaan yang deg-degan. Setelah semuanya dinilai sudah lengkap kamipun membuat akun dan mengupload dokumen yang dibutukan.
Siswa yang mendaftar jalur SNMPTN disekolah ku berjumlah 30 orang dan semuanya kemungkinan megambil jalur beasiswa yang sama yaitu bidikmisi. Pengumuman hasil seleksi berkas SNMPTN akhirnya diumumkan, yaitu pada akhir bulan mei. Awalnya aku sudah tidak yakin akan lolos jadi aku tidak mengecek di website, tapi Euis temanku yang daftar bersama denganku memberi tahu keesokan harinya bahwa aku diterima kuliah di ITB lewat jalur SNMPTN. Akhirnya aku mengecek sendiri website dan ternyata benar aku lolos.
Aku pergi ke ruang guru dan berterima kasih kepada semua guru karena atas masukan dan dukungan para guru, akhirnya aku yang berasal dari desa dapat berkuliah di perguruan tinggi negeri favorit.
Lonceng sekolah yang menunjukan jam pulangpun akhirnya berbunyi. Aku sontak saja langsung bergegas dan pulang ke rumah dengan perasaan bahagia yang tidak terkendali. Karena sesungguh hal ini masih sangat mengejutkan bagiku, aku langsung memberitahukan kepada orang tua ku bahwa aku lolos SNMPTN dan berkuliah di ITB dengan beasiswa bidikmisi. Sontak saja kedua orang tua ku menangis karena tidak menyangka anaknya dapat kuliah. Keesokan harinya pun orang tua ku berkunjung ke sekolah dan berterima kasih kepada para guru telah membantu saya untuk dapat melanjutkan kuliah.  
Akhirnya pada bulan Juli, aku pergi ke bandung bersama ibu ku untuk melakukan pendaftaran ulang di Sabuga ITB. Peristiwa tersebut merupakan hal yang sangat tidak bisa aku lupakan. Perjuanganku selama bersekolah memberikan hasil yang memuaskan dan mengubah jalan hidupku. Kini aku percaya bahwa setiap usaha tidak akan pernah mengkhianti hasil dan semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi adik-adik SMA terutama yang berasal dari SMA pedesaan untuk terus berpikir positif dalam mengejar keinginan untuk berkuliah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar